- Dosen-dosen luarbiasa baru yang dipercaya mengajar bertugas sebagai tenaga administrasi biasa pada perguruan tinggi lain atau sebagai tenaga lepas pada lembaga kursus (Karena tidak diselidiki).
- Dosen-dosen baru LB dipercaya mengajar mata kuliah keahlian (inti) pada semester lanjut
- Dosen-dosen pemula dialokasikan pada mata kuliah pokok untuk menunjang keahlian.
- Kurangnya kritisi mahasiswa tentang dosen-dosen yang mengajar (mahasiswa menerima apapun yang diajarkan dosen tanpa tahu manfaatnya untuk apa)
- Dosen ingin mempertahankan matakuliah yang tidak bermanfaat karena ia menguasai matakuliah tersebut sewaktu masih mahasiswa, sementara saat ini tidak dipakai lagi.
Dengan tanpa sadar pihak pengelola jurusan semakin membuat kurikulum dan arah pendidikan menjadi semakin jauh dari sasaran. Kurikulum keahlian biasanya ditunjang oleh beberapa mata kuliah pendukung keahlian tersebut. Mulanya pengelola jurusan kerepotan mencari dosen yang akan memegang mata kuliah penunjang tersebut. Kemudian setiap ada lamaran yang masuk langsung dipanggil dan diberikan jam mengajar dalam jumlah SKS yang sangat besar. Ini jelas sangat membahayakan bagi tercapainya sasaran kurikulum.
Kembali kepermasalahan utama di mana adanya pengelolaan jurusan dengan ala kursus ini. Dosen yang mengajar biasanya menyiapkan materi yang sudah dipelajarinya berkali-kali dan kemudian menginginkan mahasiswa melakukan hal yang sama pada waktu kuliah. Mereka jarang memberikan analisa untuk beberapa kasus pembanding, sehingga apabila kasusnya diganti mahasiswa tinggal menjiplak apa yang sudah ada, sesuai dengan instruksi dosen.
Waktu praktikumpun dosen akan menjauh dari pertanyaan-pertanyaan mahasiswa. Wah…. Gimana donk…
Sebaiknya jurusan harus mempelajari terlebih dahulu dosen-dosen yang baru tentang apakah akan dipakai atau tidak. Misalnya dengan memberikan jadwal 2 SKS untuk uji coba dan dipantau perkembangannya. Bila trendnya semakin baik, maka boleh ditingkatkan bobot SKS-nya. Sebab apabila dosen tersebut baru saja mengajar (fresh graduate) dan kita beri SKS dalam bobot besar maka kita juga sama dengan menghancurkan arah dari kurikulum kita.
No comments:
Post a Comment