Mentransfer ilmu pengetahuan (baca:dosen) merupakan tugas yang mutlak harus dipenuhi oleh seorang tenaga pengajar. Tugas ini tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Ada seorang yang benar-benar pintar, namun ia tidak dapat mentransfer ilmunya kepada orang lain dengan baik. Ada juga yang ilmunya pas-pasan, namun ia dapat mentransfer pengetahuannya dengan baik dan memotivasi agar objek yang ditransferkan ilmu tadi mengembangkannya lebih jauh.
Hal ini sudah lama menjadi perbicangan umum. Kita juga sering mendengar komentar dari mahasiswa atau kita sendiri pernah mengalaminya pada saat masih menjadi mahasiswa. Kita mengalami ada seorang dosen yang memiliki sederatan gelar akademik, namun pada saat memberikan kuliah rasanya waktu berjalan begitu lambat, apalagi kuliah dilaksanakan diatas jam 1 siang.
Ada juga dosen dengan kualifikasi pas-pasan, namun rasanya kita ingin terus ketemu dengan dosen tersebut tiap minggu. Dan rasanya ada yang hilang bila tidak menghadiri sesi kuliah dengan dosen tersebut. Kemampuan ini salah satunya adalah faktor bakat bawaan dari dosen tersebut atau kemauan ia untuk melakukannya (baca:mau merubah diri).
Bagi seorang dosen tiada yang dapat dibanggakan selain track record yang telah dibangun sepanjang karir. Dosen WAJIB melakukan tri dharma perguruan tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat). Kalau hanya sekedar mengajar maka dosen akan menjadi seorang instruktur.
Terkait dengan beberapa komentar ditulisan terdahulu yang mengatakan bahwa dosen ini kurang interaktif. Memang dosen memiliki trik dan sifat dasar dalam proses tranfer ilmunya. Itulah pembawaannya. Dan di sisi lain ia juga bukan seorang entertainer yang membuat suasana selalu hidup dan tertawa. Boleh saja suasana dibuat sedemikian rupa asalkan fokus pada tujuan.
No comments:
Post a Comment