Sumber : Warta E-Gov
BERKEMBANGNYA teknologi informasi (TI) menuntut sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan bidang TI juga. Cepatnya perkembangan TI ini tidak hanya berfokus bagaimana penggunaan teknologi saja, tapi bagaimana membuat/membangun sebuah sistem. Selain itu juga masih banyak ditemuinya kendala teknis lainnya akibat belum adanya koordinasi antar unit yang baik. Dengan demikian SDM yang memahami TI adalah kebutuhan mutlak dalam membangun e-government. Untuk itu, Warta eGov mewawancarai Muchtar Rosjid, Sekretaris KPTI DKI Jakarta.
Petikannya:
Bagaimana program lembaga Anda dalam meningkatkan kualitas SDM TI?
Kalau kita berbicara SDM TI, bagi kita yang benar-benar TI adalah programmer ke atas hingga system analyst. Operator bagi kita belum bisa membuat pemberdayaan TI. Sebab tingkat operator hanya menjalankan apa yang telah dibuat oleh sistem tadi
Berkembangnya TI tergantung dari SDMnya, dari system analyst hingga operator. Sehingga operator bertugas hanya untuk menjalankan saja. Untuk menjadi expert dibidang TI tidak mudah, harus punya bakat dan minat. Kalau tidak punya bakat dan
minat susah dikembangkan. Untuk menjadi expert itu, dia harus mengeksplor sendiri, dan memiliki basis pengetahuan eksakta yang baik.
Program untuk memperoleh SDM TI yang berkualitas, diawali dari sistem rekrutmen dengan menerapkan tes standard internasional. Pada saat itu yang diterima hanya beberapa orang, dari seratus paling yang keterima 5 atau 6 orang. Dulu, KPTI/badan rekrutmen SDMnya sendiri. Tapi bukan pegawai negeri sipil (PNS), setelah bekerja dibadan ini baru diangkat menjadi PNS. Namun sekarang tidak bisa lagi karena harus terpusat pada Badan Kepegawaian Daerah. Terkadang SDM yang sudah menjadi pilihan KPTI pun masih kurang.
Bagaimana dengan SDM di Kantor Anda?
Dulu yang diterima di kantor ini dengan pengetahuan SDM dari disiplin ilmu yang beragam, karena masih minimnya orang TI dan perguruan tinggi yang konsen di TI. SDM ini kita dilatih disini. Pelatihan dimulai dari pengantar komputer dan semua SDM yang berbeda disiplin ilmu tadi kita anggap sama dulu. Sehingga mereka yang sudah bisa TI tadi memiliki background berbeda. Kemudian dilanjutkan dengan programmer. Nah disinilah akan diketahui minat dan bakat SDM kita. Bila mereka tidak berbakat, kita tidak didik lagi. Mungkin mereka memiliki bakat lain.
Dalam hal apa saja pemahaman di bidang TIK SDM pemerintah di daerah Anda yang dirasa masih kurang?
Pelatihan tadi memang fokus di software. Untuk hardware memang dianggap lebih mudah. Jaringan juga kita bekerja sama dengan pihak luar , seperti Cisco. Tapi kami juga punya tenaga, SDM ini juga mampu melaksanakan tugas seperti, setting, konfigurasi, dan sebagainya. Tapi kalau berat kita menggunakan pihak luar tadi. Dari software, hardware, dan jaringan, kita masih kurang kemampuan pada software, menguasai programmer. Sedangkan jaringan dan hardware kita sudah bekerja sama dengan pihak ketiga dan punya tenaga yang mampu, walaupun 2 -3 tahun lagi pasti kurang. Karena membangun jaringan di kecamatan hingga kelurahan dan dinas lainnya.
Kendala yang Anda hadapi dalam memberikan pelatihan?
Kita masih mengalami kekurangan baik kualitas maupun kuantitas. Awalnya ini terjadi karena dulu orang-orang yang ahli TI tidak mau jadi PNS. Sehingga orang yang masuk PNS adalah orang-orang yang second level. Tapi ini tidak semuanya. Bahkan dulu kita sempat membina SDM, namun kemudian mereka pindah ke pihak swasta, banyak yang ke bank-bank. Wajar karena mereka miliki ilmu yang baik, tentu mengharap penghasilan yang lebih tinggi. Selain pinter TI, orang TI juga harus beritikad baik. Sehingga orang TI ini perlu integritas yang baik juga moral. Sebab orang TI ini menguasai system institusi/ lembaga yang sangat rahasia. Misalnya saja, manfaat TI ini, orang mancing aja bisa transaksi, nah ini kan perlu SDM untuk membangun sistem.
Beberapa kendala seperti, belum dapat menerapkan standar baku yang ideal. Kalau diterapkan dalam pelatihan sesuai standard internasional tadi, bisa-bisa yang lulus cuman satu, bahkan pernah gak ada yang lulus. Kemudian fighting spirit tidak seperti
dulu, gak tidur, ya gak tidur!, sekarang ini mulai mengendur. Sekarang kalau menemui masalah cepet nyerah.
Belum lagi masalah teknis lainnya. Karena masalah TI ini tidak hanya masalah teknologi saja. Sekitar 70% itu ada pada bisnis proses dan kebijakkannya, sedangkan TI nya 30%. Nah kalau orang TI disuruh konsep bisnisnya kurang memahami, sehingga perlu keseluruhan. Lantas jangan memandang KPTI saja, tapi seluruh elemen.
Review :
Saya salah seorang pengajar pada Perguruan Tinggi komputer di kota Pekanbaru. Hampir 10 tahun saya mengajar, saya sangat jarang menemui mahasiswa yang benar-benar mau meng-eksprolasi dirinya. Mereka datang mengikuti kuliah dan setelah itu pulang ke rumah masing-masing. Pada saat skripsi, merekapun mengupahkan. Bahkan biaya mengupah skripsi dan program sama dengan 3 bulan gaji PNS. Yang lebih fatal lagi ada mahasiswa yang kedapatan menjiplak skripsi dari perguruan tinggi lain. Wah... masih mahasiswa aja sudah korupsi, apalagi....
Di kost-kost an mahasiswa jarang yang membahas tentang TI, tapi bercerita bagaimana buruknya sistem pendidikan. Perlu diketahui bahwa mahasiswa saya itu rata-rata memiliki latar belakang pendidikan non eksakta pada saat SLTA (misalnya : akuntansi, tata boga dan bahkan dari pesantren). Pada saat saya kuliah dulu, yang boleh masuk ke Ilkom adalah yang memiliki latar belakang pendidikan IPA pada saat SLTA.
Nah, pada saat penyajian mata kuliah ilmu komputer mereka pada kaget. Terutama mata kuliah kalkulus, logika dan algoritma serta mata kuliah lain yang ada hitung-hitungannya. Mereka rata-rata sangat antusias saat belajar MS-Word dan MS-Power Point, Macromedia Flash. Kalau sudah berhubungan dengan scripting, mereka mulai ngeper.
Saya ingat ketika kuliah dulu, teman-teman dan termasuk saya selalu ada kegiatan untuk terus belajar. Sepulang kuliah kami mampir ke sebuah dealer komputer di mana salah seorang teman kami bekerja. Kalau ada pesanan komputer maka kami bergantian merakit komputer tersebut. Kebetulan pemilik toko itu memberikan keleluasaan kepada kami untuk belajar. Pada lain waktu kami mampir di toko-toko untuk menawarkan program. Waktu itu masih dibuat dengan menggunakan clipper. Kadang-kadang kami tidak tidur karena mesti melakukan instalasi software. Kalau dulu kan komputer masih generasi 286, 386, 486. Alhamdulillah rata-rata teman-teman itu sekarang sudah memiliki kehidupan yang sangat layak.
Sebenarnya mereka bisa sangat maksimal kalau mereka punya rencana mau jadi apa. Mau jadi operator komputer pada wartel, penjaga rental, kasir bank dst. Kalau mereka punya impian untuk hidup lebih baik, maka mereka sudah melakukan setting dari sekarang. Perguruan tinggi tinggal memberikan arahan ke arah itu.
Padahal semuanya tersedia. Perpustakaan (nyaris tidak ada pengunjung kalau tidak cari judul skripsi), Laboratorium, Internet, semuanya tersedia. Paling mahasiswa juga berkilah kalau kampusnya jauh, internetnya sering putus, tidak ada waktu, dosen tidak bermutu (seperti apa sih dosen yang bermutu ?) dan seterusnya. Namun tidak terlihat itikad dari rata-rata mahasiswa untuk mengeksplorasi dirinya. Mereka rata-rata tamat, ikut tes PNS dan lulus. Atau kalau terlalu sulit untuk ikut tes PNS maka mereka bersedia menjadi tenaga honor selama 5 tahun. Agak aneh juga memang ada Sarjana Komputer yang menjadi operator komputer atau tukang mengumpulkan data. Siapa yang salah ? Dosen, Negara, Keadaan, atau diri anda sendiri ? Ada dua pilihan : Anda akan terus menyalahkan yang lain atau anda akan melakukan perubahan radikal dalam hidup anda ?
hmmm.... mgkin seribu satu mahasiswa yg mau mandiri pak, tpi saya yakin bahwa saya akan membuktikan diri saya sendri kalau saya mampu....
ReplyDeleteYap....saya akan tunggu pembuktiannya....
ReplyDeleteMau merengek ke Pemerintah atau mau mandiri ?