Bagi Dosen...renungkan ini......
Pada saat duduk di bandara Soekarno-Hatta menunggu penerbangan ke Pekanbaru, saya berkenalan dengan seorang Guru Besar dari Universitas Indonesia. Saat itu penerbangan saya mengalami penundaan sekitar 2 jam. Untuk menghilangkan jenuh saya duduk-duduk di bagian luar ruang tunggu bandara. Saya mengobrol ringan dengan sang Profesor. Kadang-kadang diiringi derai tawa kami berdua. Beliau sudah cukup berumur, namun masih enerjik dan bersemangat tinggi. Ucapannya pun selalu menunjukkan sikap optimis.
Saat kami asyik mengobrol datanglah seorang teman baru dan langsung menyalami sang professor. Teman itu mengaku sebagai dosen di salah satu PTN di Sumatera dan kebetulan satu propinsi dengan saya. Teman itu mengaku sering menghadiri seminar-seminar sang professor. Dalam hati saya merasa risih karena orang yang begitu popular di kalangan akademis saja saya tidak kenal. Saya memang sering melihat nama beliau sebelumnya kalau browsing di internet mencari sesuatu untuk dijadikan bahan penelitian.
Percakapan Profesor dengan teman baru saya itu berlangsung seru. Teman saya itu bercerita waktunya nyaris tidak ada karena penuh untuk mengajar. Mengajar di kelas jauh dan program UT di wilayah kabupaten. Bahkan sampai ke pulau-pulau terpencil. Teman itu juga mengaku sebagai salah satu dosen yang jadwalnya tidak pernah kosong dari mengajar. Bahkan pada hari-hari biasa, jadwalnya penuh untuk mengajar di berbagai PTS di berbagai pelosok ibu kota propinsi.
Sang professor bertanya “Anda apakah benar-benar dosen ?”
Teman itu menjawab “Bagaimana tidak Pak. Saya nyaris menghabiskan waktu saya untuk mahasiswa dan memberikan kuliah”.
Sang professor tersenyum kecut dan kembali bertanya yang membuat kami berdua terhenyak.
“Kalau anda mengaku sebagai dosen, apa prestasi yang pernah anda capai sebagai dosen ?” beliau bertanya.
“Bukankan yang saya ceritakan itu sudah menunjukkan prestasi saya, pak ?” teman itu menjawab.
“Itu bukan prestasi dosen, Mas”, professor menjawab.
“Maksudnya Pak ?”, teman itu kembali ngotot bertanya.
“Dengan mengajar begitu banyak kapan waktu dilakukan untuk meneliti, mengembangkan keilmuan, membuat buku ajar, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, dan sebagainya . Pernahkan anda memenangi hibah kompetisi penelitian, pernahkan anda mendapat penghargaan tertentu terkait dengan keilmuan anda?”, suara professor meninggi.
“Pak, saya kan udah S-2. Itu kan termasuk prestasi ?”, teman itu kembali bertanya.
“Hahahahaaa....S-2 itu hanya prasyarat untuk jadi dosen, bukan prestasi. Dan itu standar. Apalagi dengan mengajar lebih dari 12 SKS itu sudah tidak mencerminkan lagi sebagai dosen professional, tapi kemaruk dan mengejar materi. Tanya hati anda. Anda mencari uang atau mencerdaskan bangsa ?”, professor menjawab.
Teman itu terdiam dan terhenyak. Memang begitu adanya. Kalau anda mengaku sebagai dosen APA PRESTASI ANDA ? SUDAH BERAPA BANYAK ANDA MEMBUAT BUKU ? SUDAH BERAPA BANYAK ANDA MELAKUKAN PENELITIAN & INOVASI KEILMUAN ? BERAPA JURNAL ANDA YANG TERBIT BEREPUTASI INTERNASIONAL ? BERAPA PATEN YANG TELAH ANDA RAIH ? DAN SEBAGAINYA.
Jenjang Pendidikan bukanlah prestasi, tapi standar.
No comments:
Post a Comment