Monday, 25 August 2008

Gimana Ceritanya Aku Jadi Dosen ?

Saya berprofesi sebagai Dosen pada sebuah perguruan tinggi komputer (STMIK-AMIK Riau). Saya sudah bergabung dengan perguruan tinggi ini sejak awal tahun 2001. Pertama kali tinggal di Pekanbaru aku menyewa rumah petak milik Pak Sani di kawasan Purwodadi dengan biaya sewa waktu itu Rp. 150.000. Padahal honorku waktu itu Rp. 450.000. Maklum karena masih berstatus sebagai dosen luar biasa. Kadang aku makan nasi dengan sambal indomie. Kadang saya makan dengan kerupuk. Tapi saat itu aku merasa bahwa tidak selamanya aku harus begini. Namun apa yang ada di depan cukup hadapi saja segalanya dengan lapang dada. Berikut ini adalah sedikit riwayatku.

A. Menuju Pekanbaru

Berdasarkan panggilan untuk menjadi dosen yang aku terima di Padang aku berangkat ke Pekanbaru dengan menumpang Travel Nang Motor. Saat itu ongkos travel dari Padang ke Pekanbaru Rp. 25.000 untuk kelas ekonomi. Aku berangkat malam hari agar sampai pagi harinya di Pekanbaru. Pekanbaru adalah dunia baru bagiku. Aku tidak mengenal Pekanbaru dengan baik seperti aku mengenal kota Padang dan Jakarta. Aku sampai di Pekanbaru pagi keesokan harinya. Aku meminta sopir travel agar menurunkanku di Hotel. Sopir travel menurunkanku di sebuah hotel murah karena dana aku terbatas. Sewa kamar hotel waktu itu Rp. 35.000. Saat itu telah menunjukkan pukul 7.30. Aku harus menghadiri wawancara pukul 08.00. Aku segera berkemas dan langsung menuju kampus STMIK-AMIK dengan menggunakan oplet. Aku duduk didepan dan bertanya sepanjang jalan dengan sopir tersebut tentang lokasi kampus. Ternyata sopir tersebut adalah Bapak dari seorang teman kuliahku. Percakapan semakin akrab. Aku turun di simpang Purwodadi dan menuju ke pangkalan becak. Salah seorang pemiliki becak yang tubuhnya penuh dengan tato menyapaku. Aku bertanya berapa ongkos ke Kampus dan dia jawab Rp. 500. Tanpa menawar aku langsung naik dan diantar ke kampus. Terakhir tukang becak ini aku kenal dengan nama Al dan kami cukup kenal baik. Memasuki lokasi kampus aku menanya seorang mahasiswa tentang lokasi sekretariat, tapi malah diberi arah yang salah. Tapi aku langsung lihat ada gedung dengan tampilan berbeda dan aku langsung ke sana. Aku menunjukkan surat pemanggilanku. Beberapa dosen yang menyapaku sepertinya pura-pura kaget dan bertanya dengan nada agak mengejek seolah-olah ia kaget melihat penampilanku yang sesungguhnya berbeda dengan foto yang ku kirimkan sebelumnya. Aku tidak mau pusing tentang itu. Mereka memintaku untuk menunggu Bapak Pauzun yang saat itu menjabat sebagai Pjs. Direktur AMIK Riau. Selang tidak berapa lama bapak Pauzun muncul dengan pakaian bermotif kotak-kotak dan menyalamiku dengan akrab. Beliau mengajak Ibu Lusiana dan Ibu Erlin mewawancaraiku. Singkat cerita Beliau memintaku untuk mengasuh beberapa mata kuliah pada semester depannya. Selesai diwawancara aku dan Pak Pauzun banyak berdiskusi, hingga akhirnya aku mendapat tumpangan bis kampus yang kebetulan lewat dengan hotelku tempat menginap. Aku langsung masuk kamar dan tidur kelelahan. Aku merencanakan malam di kota itu. Pukul 17.00 aku terbangun dan membuka pintu kamar hotel. Seorang wanita dengan pakaian seksi mondar mandir di depan pintu kamarku dan terus melihat ke arah dalam kamarku. Aku keluar kamar dan melihat suasana sekitar kamarku dan di ruang lobi ternyata lebih banyak lagi wanita-wanita seksi yang tengah asik duduk, merokok dan minum softdrink. Aku keluar dari hotel tersebut untuk sekedar jalan-jalan sore. Setelah lama di luar aku melihat plang merek yang sudah tidak asing lagi bagiku. ANS. Ya..sebuah armada bis antar propinsi. Aku iseng bermain ke loket penjualan tiket. Aku tanyakan apakah tiket ke Padang untuk malam ini masih ada ? dan ternyata ada cukup banyak bangku yang tersedia. Aku langsung memesan satu tiket dan check out dari hotel tersebut karena terus terang aku masih kangen dengan rumah kontrakanku yang di Padang. Habis magrib aku langsung menuju loket ANS dan menunggu bis. Di Loket aku ketemu dengan teman kuliahku, Endang yang jago menyanyi. Dia cukup akrab denganku. Kebetulan dia diantarkan oleh bapaknya. Aku jadi senang karena aku ada teman di perjalanan.

B. Mencari Rumah Sewaan

Setelah resmi diterima sebagai dosen luar biasa aku mulai mengepak semua peralatanku di Rumah kontrakanku di Padang. Asetku yang paling banyak adalah buku. Sekitar 1500 buku koleksi aku masukkan ke dalam kardus. Padahal aku ke Pekanbaru cukup berspekulasi, karena aku berfikit bahwa aku akan menempuh hidup di sana. Mahasiswa kalau sudah diwisuda biasanya pulang kerumah orang tua, sementara aku tidak. Aku harus menjalani hidupku. Semasa kuliah kehidupanku cukup prihatin, namun aku cukup sukses mensiasatinya. Aku dapat hidup dengan uang Rp. 500 sehari, sementara yang lain sanggup Rp. 7500. Aku sejak remaja sudah terlatih untuk itu. Menjelang akhir studi aku cukup banyak memiliki uang dari hasil memberikan pelatihan pemrograman kepada mahasiswa yang akan mengikuti ujian skripsi dan ujian laboratorium. Kondisinya sekarang aku harus memulai segalanya di Pekanbaru.

Pagi itu aku berangkat lagi ke Pekanbaru dengan menaiki travel “Nang Motor”. Aku mulai mengangsur beberapa dus buku dan pakaianku. Aku belum memiliki tempat tinggal. Untunglah ada kakak dari temanku yang memiliki rumah Perumnas di kawasan Panam bersedia menampungku. Rumah itu kosong karena yang empunya rumah bekerja di areal pengeboran minyak bumi di Duri. Karena kami kenal baik ia merelakan aku tinggal sementara waktu di rumahnya itu. Aku tidak akan melupakan jasa baikknya. Keesokkan harinya aku mulai berkelana mencari rumah. Aku berjalan kaki ke sana sini di sekitar simpang purwodadi untuk mencari rumah sewaan. Namun hasilnya nihil. Akhirnya ada yang menyarakanku untuk pergi ke perumnas yang masuk sekitar 500 m dari jalan raya. Aku menuju ke sana dan mendapatkan sebuah rumah kosong. Aku meminta izin untuk masuk setelah yang empunya rumah memberikan kunci. Aku akan memeriksa air dan WC karena bagian itu merupakan bagian yang vital. Aku muntah-muntah begitu memasuki WC karena ada genangan bekas kotoran yang mengambang sudah cukup lama di sana. Bau menyengat dan tajam. Aku kembali keluar dan mengembalikan kunci. Yang empunya rumah meminta aku membayar uang muka. Namun aku mengatakan akan kembali lagi. Aku meninggalkan areal itu dan sampailah aku di depan pesantren Babussalam. Aku melihat ada rumah kosong. Aku menanya sewanya perbulan. Rumah itu terbuat dari kayu dan sudah mulai reot. Aku juga batal mengambil rumah itu. Aku kembali berjalan kaki ke arah kampus dan bertanya di rumah-rumah dan warung. Panas Pekanbaru terasa menyengat. Setelah lelah berjalan kaki aku mampir di sebuah warung dan minum teh botol. Diwarung itu aku kembali bertanya. Ibu pemilik warung itu menanyai pekerjaanku dan aku menjawab calon dosen di AMIK Riau. Dia langsung mengatakan bahwa salah satu putrinya adalah mahasiswa kampus itu. Aku kembali fokus ke pertanyaan semula. Beliau menjawab bahwa beliau ada punya rumah petak, tapi cobalah lihat dahulu, siapa tahu tidak berminat katanya. Beliau menyerahkan kunci. Aku bergegas menuju rumah yang dimaksud. Ternyata rumahnya lumayan bagus dan aku menganggap sudah sangat layak. Aku menanyakan berapa sewanya ? Beliau menjawab Rp. 150.00 perbulan. Tapi bayarnya per 3 bulan karena beliau kuatir nanti aku kabur setelah 1 bulan tinggal di sana. Aku membayar uang mukanya Rp. 200.000. Hingga akhirnya aku tinggal cukup lama di sana. Mereka menganggapku sudah seperti anak sendiri.

C. Hari-hariku sebagai dosen

Secara teknis aku tidak mengalami kesulitan apa-apa melakoni profesi baruku sebagai dosen. Ini berkat pengalamanku sebagai asisten dosen dan memiliki usaha pelatihan sendiri. Pada saat menjelang perkuliahan aku diundang untuk menghadiri rapat akademis untuk memperkenalkan para dosen dan distribusi mata kuliah yang akan di asuh. Menjelang rapat aku menunggu di ruang tunggu dosen. Aku berkenalan dengan dua orang dosen baru sepertiku yang terakhir ku kenal dengan nama Sandra dan Jatwoko. Sandra seorang gadis berjilbab yang cantik dan jangkung. Jatwoko sibuk membolak-balik buku visual basic yang ada di tangannya. Mereka semua tamatan dari pulau Jawa. Pada saat rapat aku mendapat tugas mengasuh mata kuliah Database dan Bahasa C pada jenjang S-1. Pada jejang diploma III aku dipercaya mengasuh mata kuliah Bahasa C. Total 13 SKS aku kantongi pada masa awal karirku. Per SKS-nya adalah Rp. 10.000. Aku hanya datang ke kampus pada saat ada jadwal. Untuk menghemat ongkos biasanya aku jalan kaki dari rumah ke kampus yang jaraknya sekitar 1,5 km kalau lagi tidak ada tumpangan bis kampus. Sering kali aku berjalan kaki dari kampus keluar dengan Ibuk Sandra. Pernah juga aku harus mengambil jalan memutar ke perumnas PRIMKOPAD karena aku pernah dicegat anjing yang tiduran dijalanan. Aku memang takut dengan anjing karena salah seorang adikku pernah digigit anjing gila. Terakhir aku membaca literatur bahwa anjing dapat mencium aroma ketakutan dari manusia sehingga ia lebih agresif.

Pada awal-awal menjadi dosen, waktu berjalan begitu lama. Persediaanku kian menipis dan aku harus ngebon di warung ibu kostku. Rokok yang dibelipun asal dapat menghasilkan asap. Kadang-kadang aku mampir sekedar berkunjung ke rumah sepupuku yang bekerja sebagai dosen UNRI. Waktuku cukup banyak senggang sehingga aku mencoba mengirimkan lamaran-lamaran ke lembaga pendidikan yang lain dan rata-rata semuanya membalas dan membuka peluang baru pada akhir tahun 2001. Aku mendapat 2 kelas di Lami Komputer untuk mengasuh mata kuliah Clipper II dan analisa dan perancangan sistem II. Setiap hari aku berangkat naik bis kota. Tiap mengajar aku memakai baju batik karena aku punya 2 baju batik dan 2 kemeja polos. Dalam setiap hembusan nafasku aku terus berdoa agar semuanya berubah. Bahkan lebaran ahkir 2001 aku tidak bisa pulang ke kampung halamanku dan menunggui rumah teman yang lagi pulang kampung. Perlahan kondisiku mulai membaik dan aku mulai berhemat. Pada tahun 2002 nyaris tidak ada lagi waktuku yang lowong karena sehabis mengajar di AMIK Riau aku langsung mengajar di Lami Komputer hingga jam 10 malam. Tahun 2001 akhir aku dipanggil oleh ketua yayasan yang membina perguruan tinggi STMIK-AMIK Riau. Aku diminta untuk mengikuti proses untuk menjadi dosen tetap. Ada tiga tahapan. 3 bulan masa magang, 3 bulan masa percobaan dan baru diangkat jadi dosen tetap. Aku di SK kan sebagai dosen tetap pada bulan Maret 2002 sehingga aku mendapatkan hak yang sama dengan dosen tetap yang lain. Aku menerima gaji pokok dan pendapatan lainnya. Aku sudah berhak untuk ikut serta menguji mahasiswa tahap akhir dan melaksanakan pembimbingan tugas akhir/ skripsi.

Karena sering kejar-kejaran naik bis kota aku mulai berniat untuk membeli sepeda motor dengan cara mencicil/kredit. Sayangnya aku tidak memiliki KTP dan KK Pekanbaru. Untuk itu Pak Sani (Bapak Kost) bersedia memberikan jaminan untuk mendapatkan kredit. Pada saat mengendarai honda aku selalu memanjatkan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas segala nikmat yang aku terima. Semua tempat menjadi serba dekat. Aku dapat pergi kemanapun, dan kapanpun tanpa harus kuatir kalau-kalau tidak ada angkot atau bis kota.

3 comments:

  1. crita yg bisa dijadikan buat pelajaran hidup. nice story pak

    ReplyDelete
  2. Kalau anda "keraskan" hidup anda, maka anda akan mendapati kehidupan yang "lunak". Kalau anda "Lunakkan" hidup anda, maka anda akan mendapati kehidupan yang "keras"


    prinsip diatas sesuai ama crita bapak ya pak. tyta berkat keuletan bapak bisa seperti saat ini.

    ditunggu pak pengalaman bapak yang lain.

    ReplyDelete